Category: Penelitian


Siput abalone menyimpan potensi untuk menjadi komoditas, karena nilai ekonominya yang tinggi. Tapi, jika penangkapannya berlebihan, dapat mengakibatkan kepunahan.

Oleh karena itu, inovasi teknologi budidaya abalone di Indonesia sangat penting ditingkatkan.

Hal itu disampaikan peneliti Puslit Oceanografi LIPI, Dwi Eny Djoko Setyono dalam orasi ilmiah berjudul, ‘Biologi dan Inovasi Teknologi Budi daya Abalon Tropis Untuk Meningkatkan Produksi Perikanan di Indonesia’, di gedung LIPI, Jakarta, Jumat 11 November 2011.

Dia menyampaikan, masa depan budi daya abalone sangat baik mengingat lahan yang cocok sangat luas. Makanan siput ini juga gampang dan bahan  pakannya relatif murah. Makanan abalone ini berupa lumut, atau tepung ikan, tepung kedelai, tepung jagung, dan minyak ikan.

“Pemerintah perlu menyosialisasikan usaha budidaya abalone tropis untuk menyejahterakan masyarakat,” ujarnya, Jumat, 11 November 2011.

Dalam pasar ekspor, abalone juga banyak diminati seperti, China, Jepang dan beberapa negara di Eropa. Bahkan di China, abalone kata Dwi, dijadikan suguhan resmi untuk tamu.

Harga abalone di pasar ekspor mencapai US$40 per kg untuk abalone hidup, US$66 per kg untuk daging abalone segar, US$80 per kg untuk abalone yang dikalengkan.

“Untuk budidaya ini bisa dimulai kecil saja, buat kolam ukuran 5 m2 sudah bisa. Yang penting airnya bersih,” sarannya.

Sampai saat ini, dia mengaku sudah mengembangkan pembenihan. Tahun depan akan melakukan studi pembesaran budidaya.

Meski demikian, dia merasa inovasi budidaya perlu dikembangkan. Masih banyak riset berkaitan dengan budidaya abalon perlu dilakukan, misalnya formulasi pakan buatan, pemilihan benih, aplikasi zat probiotik dan hormon pertumbuhan, dan kontrol penyakit.

Untuk melakukan penelitian juga diperlukan kerja tim yang terdiri dari, pakar nutrisi, biokimia, imunologi, mikrobiologi. Pemanfaatan abalone sampai saat ini hanya untuk konsumsi. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa dilanjutkan dengan pemanfaatan yang lain.

Di beberapa wilayah Indonesia, abalone diketahui telah mengalami kelebihan tangkapan. Untuk itu, dia mengharapkan pemerintah mengeluarkan peraturan untuk membatasi kuota maupun ukuran biota yang boleh ditangkap dari alam.

Advertisements

David Nesvorny, peneliti dari Southwest Research Institute menyebutkan, ada kemungkinan bahwa tata surya dahulunya memiliki 5 planet raksasa. Bukan empat planet seperti yang ada saat ini.

Seperti diketahui, saat baru terbentuk, planet-planet yang ada di tata surya belum memiliki orbit yang stabil dan kemungkinan besar Jupiter pernah mendekat ke arah Matahari sebelum kembali ke posisinya.

Tetapi, bagaimana Jupiter bisa berpindah posisi tanpa menyebabkan Bumi bertabrakan dengan Mars atau Venus tidak bisa diketahui. Namun, lewat simulasi komputer, dengan menambahkan sebuah planet raksasa dengan massa serupa dengan planet Uranus atau Neptunus, akhirnya semua masuk logika.

Simulasi komputer menunjukkan, satu buah planet besar telah dikeluarkan dari tata surya oleh Jupiter. Setelah planet raksasa di tata surya tinggal empat buah, Jupiter kemudian bisa berpindah kembali ke posisi awal dan membuat susunan planet-planet tersisa menjadi seperti saat ini tanpa mengganggu planet-planet dalam.

“Kemungkinan bahwa pada awalnya sistem tata surya memiliki lebih dari empat planet raksasa dan kemudian melepaskan beberapa di antaranya tampak dimungkinkan jika melihat temuan sejumlah planet yang bergerak bebas di ruang antar galaksi beberapa waktu terakhir,” kata Nesvorny, seperti dikutip dari Astronomy Now, 13 November 2011.

Nesvorny menyebutkan, temuan-temuan itu mengindikasikan bahwa proses pengusiran planet-planet dari sistem tata surya merupakan hal yang umum terjadi. Temuan ini sendiri dipublikasikan di jurnal The Astrophysical Journal Letters. Perpindahan posisi planet Jupiter saat sistem tata surya baru lahir sendiri sudah diteliti sejak lama. Menurut pelenliti, salah satu efek sampingnya adalah yang mengakibatkan ukuran planet Mars menjadi kerdil dibanding planet-planet tetangganya.

Kenapa Harus Terjadi..?

Pemuka Katholik dan tokoh pluralisme agama, Frans Magnis Suseno, menilai perobekan Al Quran oleh enam orang pengunjuk rasa di depan Gedung Putih, Washington DC, AS, sebagai perbuatan yang sangat tercela.

“Perobekan Al Quran sama memalukannya seperti rencana pembakaran Al Quran,” demikian ditegaskan Romo Magnis yang juga merupakan Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara saat dihubungi VIVAnews.com, Minggu, 12 September 2010.

Magnis menyatakan sebagai sebagai orang beragama, seharusnya kita saling menghormati kitab suci agama lainnya. “Agama Kristen mengajarkan agar senantiasa bersikap baik dan saling menghormati.”

Magnis meminta agar semua pihak tidak terpancing dengan kejadian ini. “Tidak perlu menerka apa motivasi  pelaku itu. Tapi yang pasti ini tidak dapat dibenarkan” ujar Romo.

Sabtu kemarin, di depan Gedung Putih, enam pengunjuk rasa merobek beberapa lembar isi sebuah buku yang mereka klaim sebagai Al Quran edisi bahasa Inggris. Pada hari yang sama, Obama menghadiri upacara peringatan 9/11 di Pentagon, Washington DC, AS.

Cardiff, Tidak sedikit orang yang suka belajar sambil mendengarkan musik, nonton televisi atau mendengarkan radio. Tapi sebenarnya belajar sambil mendengarkan musik tidaklah baik untuk otak. Mengapa?

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan pelajar yang suka mendengarkan musik ketika belajar membawa dampak buruk bagi otak.

Mempelajari materi ujian sambil mendengarkan musik bukanlah hal yang tepat, karena latar belakang musik dapat mempengaruhi kemampuan otak untuk melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan memori, yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi konsentrasi.

Penelitian yang telah dipublikasikan pada jurnal Applied Cognitive Psychology ini, dilakukan dengan meminta partisipan mengingat delapan data dalam urutan. Penelitian ini dilakukan di lima kondisi berbeda, yaitu lingkungan yang tenang, diperdengarkan musik yang disukai, musik tak disukai, data tidak stabil (urutan acak) dan data stabil.

Hasilnya, kemampuan mengingat partisipan buruk saat kondisi mendengarkan musik, baik musik yang disukai maupun yang tak disukai, juga saat dilakukan mengacakan data. Sedangkan ingatan paling bagus terjadi ketika berada pada lingkungan yang tenang dengan data yang tetap atau stabil.

“Rendahnya daya ingat partisipan pada saat mendengarkan musik dan mengalami data acak terjadi karena adanya variasi di lingkungan akustik. Hal ini merusak kemampuan untuk mengingat urutan data dan pengulangan,” tutur Nick Perham, peneliti dan dosen di School of Psychology, University of Wales Institute di Cardiff, seperti dilansir dari Health24, Jumat (6/8/2010).

Perham menjelaskan bahwa untuk mengingat data juga diperlukan kemampuan untuk mempertahankan kontrol informasi dalam jangka pendek, yaitu melalui pengulangan memori.

Tetapi hal tersebut tidak akan terjadi ketika lingkungan belajar atau tempat untuk mengingat mengalami variasi akustik atau perubahan bunyi, seperti dengan latar belakang musik.

“Ketika Anda belajar dengan tujuan untuk mengingat, maka carilah lingkungan yang tenang,” rekomendasi Perham.

Namun, studi lain menunjukkan bahwa mendengarkan suara-suara tertentu seperti bahan kuliah saat tidur justru dapat meningkatkan daya ingat. Bahkan, untuk memanfaatkan hasil temuan ini, sekarang telah diproduksi bantal yang dilengkapi dengan speaker sehingga orang bisa tidur sambil mendengarkan musik atau bahan kuliah.

Sindrom kekurangan kasih sayang ibu menyebabkan kegagalan berkembang pada anak. Kegalan berkembang merujuk pada kegagalan bayi mendapatkan berat badan cukup, kegagalan pertumbuhan tubuh, dan kegagalan mencapai tahap perkembangan. Kebanyakan kasus disebabkan oleh pola pengasuhan, disfungsional interaksi, kemiskinan, penganiyaan anak, dan ketidaktahuan orangtua mengenai penitipan anak yang tepat.

Gejala
Gejala yang nampak pada bayi seperti:
Tidak ada pertumbuhan linear (grafik pertumbuhan menurun)
Kurangnya kebersihan yang sesuai
Masalah interaksi antara ibu dan anak
Berat kurang dari persentil ke-5, atau angka yang tidak memadai berat badan

Perawatan
Pengobatan gagal tumbuh pada bayi yang disebabkan karena kurang pengasuhan dari merupakan tanggung jawab utama yang memerlukan masukan dari sebuah tim multidisiplin termasuk dokter, ahli gizi, pekerja sosial, perilaku spesialis, dan perawat.

Banyak program yang tersedia untuk para orang tua muda, orangtua tunggal, dan orang tua yang memiliki masalah lain. Arahan harus dilakukan sedini mungkin untuk program-program yang tepat. Membantu anggota keluarga mengakui bahwa ada masalah dan menyediakan peningkatan dukungan bagi ibu dan bayi merupakan satu cara untuk mengatasi masalah tersebut.

Nama Abraham Lincoln telah tercatat dalam sejarah sebagai presiden Amerika Serikat ke-16. Lincoln adalah seorang pemimpin yang kuat, yang mampu memimpin bangsanya keluar dari perang saudara Amerika, mempertahankan persatuan bangsa dan menghapuskan perbudakan. Tapi tahukah Anda bahwa Lincoln menderita depresi yang cukup parah?

Entah penyakit, gangguan ataupun kondisi pikiran, yang pasti depresi telah mempengaruhi lebih dari seratus juta orang per tahun, termasuk sosok pemimpin tangguh Abraham Lincoln.

Orang nomor satu Amerika Serikat yang menjabat sejak 4 Maret 1861 ini adalah seorang yang melankolis. Lincoln juga ternyata menderita depresi dari tahun ke tahun.

Dilansir dari PsychologyToday, Senin (26/7/2010), kondisi Lincoln merupakan kasus psikologis yang tidak biasa. Meski seorang yang melankonis kronis dan menderita depresi, tapi Lincoln termasuk orang terkuat dalam sejarah.

Selama tahun 1800-an, Lincoln diketahui menderita depresi, kecemasan dan insomnia. Depresi yang dialaminya dimulai dengan kematian orang-orang yang dicintainya. Sejak masa kanak-kanak, Lincoln juga diketahui mengalami berbagai macam trauma.

Lincoln berasal dari keluarga yang miskin dan tidak memiliki latar belakang pendidikan. Dilansir dari mcmanweb.com, satu-satunya saudara laki-lakinya meninggal saat masih bayi. Ibu, bibi dan pamannya meninggal karena epidemi pada saat ia berusia 9 tahun. Sepuluh tahun kemudian, kakak perempuannya meninggal saat persalinan.

Tidak hanya sampai disitu, Lincoln sempat bertunangan dengan Anne Rutledge, tapi Anne meninggal karena tiroid (Thyroid Fever), yang membuatnya sangat hancur. Lincoln kemudian bertunangan dan menikah dengan Mary Todd, meski ia diam-diam mencintai Matilda Edwards. Ketika hubungannya dengan Matilda berakhir, Lincoln tampak semakin ‘gila’.

Akhirnya, Lincoln bertemu kembali dengan Mary Todd dan menikah lagi 3 tahun kemudian. Dari pernikahannya, Lincoln dikarunia 4 orang anak. Ia sangat mencintai anak-anaknya, tapi hanya 2 orang yang bertahan hidup. Yang paling membuat terpukul adalah kematian putranya Willie di usia yang masih sangat muda, yaitu 11 tahun.

Tak hanya karena masalah keluarga, Lincoln juga sering menghadapi masalah-masalah besar dalam kehidupan karirnya, baik di bidang hukum, ekonomi maupun politik.

Sepanjang hidupnya, Lincoln berusaha untuk melawan sifat melankolis dan depresi pada dirinya. Tapi ia tak pernah menjadi orang yang ceria, meski ia senang membaca, bercerita, ahli di bidang hukum, intrik politik dan juga suka bermain dengan anak-anak.

Anehnya, disisi pandang filosofis-psikologis yang sama dengan depresi, Lincoln juga menjadi seorang yang sangat kuat. Keputusasaan dan kegagalan telah menguatkan karakternya. Bahkan Lincoln dinilai sebagai presiden AS yang paling hebat sepanjang sejarah Amerika.

Lincoln memiliki perasaan yang kuat dan peduli pada nasib seluruh umat manusia. Lincoln memiliki sifat baik dan tragedi, membuat ilmu psikologi tidak dapat dengan mudah menyimpulkan kondisi yang dialaminya.

Sulit bagi ilmu psikologi moderen untuk memahami bagaimana orang yang depresi bisa memiliki rasa percaya diri dan energi untuk memimpin negara yang paling kuat di dunia. Ia harus melewati kehancuran dirinya sendiri tapi tak pernah kehilangan rasa kemanusiaannya.

Otoritas di kota London meluncurkan 6.000 sepeda untuk disewakan kepada masyarakat. Langkah ini dilakukan demi mengurai macet sekaligus mengampanyekan sepeda sebagai moda transportasi umum paling ramah lingkungan.

Seperti dikutip dari laman Guardian, sepeda-sepeda itu akan dipusatkan di 400 stasiun penyimpanan yang tersebar di seluruh penjuru kota.

Masyarakat atau turis bisa menyewanya setiap saat. Mereka bisa menggunakan sepeda itu gratis di 30 menit awal untuk keliling kota. Namun, selanjutnya akan dikenakan beban sewa sebesar US$1,53 atau sekitar Rp15.000 selama 24 jam atau US$68 atau sekitar Rp650 ribu selama setahun.

“Kami harap sepeda-sepeda ini bisa menjadi ikon London. Saya rasa London boleh bangga dengan konsep ini karena telah memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menggunakan alat transportasi paling ramah lingkungan,” kata Kulveer Ranger, staf ahli walikota bidang transportasi.

Di Jakarta, mimpi menjadikan sepeda sebagai moda transportasi umum masih jauh dari angan. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mensyaratkan jumlah pengayuh kereta angin di Jakarta mencapai satu juta orang untuk membangun jalur khusus sepeda yang nyaman.

Syarat itu sekaligus membenamkan proyek percontohan Urban Park Connector atau pembangunan jalur sepeda yang menghubungkan Blok M-Monas dua tahun silam. Proyek ini tadinya ingin menciptakan jalur khusus sepeda selebar 1 meter yang menghubungkan fasilitas-fasilitas kota seperti taman, air mancur, dan jalur hijau.

Jalur yang sempat akan diujicobakan adalah rute Blok M (Taman Christina Martatiahahu) – Walikota Lama (Jalan Trunojoyo) – Jalan Pattimura – Air Mancur Senayan – Jalan Jenderal Sudirman – Semanggi – Jalan MH Thamrin – Monas.

Selain menjaga keamanan negara, prajurit di Korea Selatan (Korsel) kini juga mendapat perintah baru: dilarang omong jorok atau berkata-kata vulgar. Untuk itu mereka diperintahkan menjalani kursus untuk berbicara dengan bahasa yang baik dan benar.

Perintah itu dikeluarkan oleh Menteri Pertahanan Korsel, Kim Tae-young. Pekan ini dia menginstruksikan para staf untuk mengadakan kursus pelatihan berbahasa bagi para prajurit.

Kim merasa prihatin bahwa para prajurit, terutama anak-anak muda yang tengah menjalani wajib militer, sering menggunakan kata-kata kotor atau tak enak didengar saat bercakap-cakap dengan sesama mereka.

“Mereka sudah bukan lagi remaja,” kata seorang pejabat Kementrian Pertahanan, yang dikutip harian The Korea Herald dan juga dipublikasikan oleh harian The Independent, Sabtu 7 Agustus 2010.

“Begitu mereka dibebastugaskan di awal usia 20-an, mereka tidak bisa terus-terusan seenaknya. Itulah mengapa kami ingin melatih mereka berbahasa yang baik,” lanjut pejabat yang tidak diungkapkan namanya itu.

Namun, tidak diungkapkan lebih lanjut berapa lama kursus itu bakal berlangsung dan metode seperti apa yang akan digunakan bagi para prajurit muda tersebut.

Di Korsel, semua laki-laki harus menjalani wajib militer selama 24 bulan. Program ini begitu penting bagi pemerintah Korsel mengingat mereka masih dalam status perang dengan negara tetangga, Korea Utara. Kedua Korea sempat berperang selama 1950 hingga 1953, namun hanya dihentikan oleh gencatan senjata yang disponsori PBB, bukan melalui perjanjian damai.

Benua Yang Hilang..?

Rumah bagi 1/6 populasi dunia, namun hanya menyumbang 1/40 dari produk domestik bruto (GDP) tingkat global. Afrika jelas merupakan korban yang paling mencolok dari resesi global.

Selama 50 tahun terakhir ekonomi di Afrika hanya tumbuh 5 persen. Namun, tingkat pertumbuhan tahun ini diperkirakan malah berkurang setengahnya. Sejumlah negara seperti Angola mengalami gejolak. Di tempat-tempat lain, krisis ini telah menggerus keuntungan yang dicapai dari reformasi ekonomi selama bertahun-tahun. Banyak orang di Afrika kini kembali kepada jurang kemiskinan.

Para ekonom pembangunan kini tampak putus asa; Afrika seakan sudah sia-sia bekerja keras untuk menciptakan keajaiban. Jelang dekolonisasi pada 1960, pertumbuhan GDP per kapita di Afrika Sub-Sahara hampir tiga kali lipat lebih besar dari Asia Tenggara. Selain itu banyak orang Afrika diperkirakan bisa hidup lebih lama dua tahun dari tingkat rata-rata.

Namun, 50 tahun sejak dekolonisasi, tingkat GDP riil per kapita di Afrika hanya tumbuh 38 persen dan mereka hidup sembilan tahun lebih lama. Sebaliknya, di Asia Tenggara, tingkat GDP per kapita meningkat 1000 persen dan orang-orang di sana hidup 32 tahun lebih lama.

Awalnya, solusi bagi Afrika sebenarnya sangat jelas. Afrika butuh modal, namun kurang tabungan. Lalu, uang harus disediakan dari pihak luar, yaitu institusi keuangan seperti Bank Dunia. Menerapkan suku bunga komersil dari orang-orang kelaparan sama halnya dengan riba, sehingga menawarkan pinjaman sama rutinnya dengan mendatangkan hibah.

Melempar uang ke orang miskin seolah menjadi obat mujarab. Program itu gampang dijual dan menyentuh emosi kemanusiaan. Selain itu juga meringankan perasaan bersalah sebagai penjajah di masa lalu, sama dengan tingkah orang tua yang memberi anak-anak hadiah mahal agar penelantaran mereka bisa dimaafkan.

Namun perilaku demikian tidak berjalan baik. Sebagian besar bantuan telah dicuri atau terkucur sia-sia. Di Kongo, misalnya. Kendati mengalami peningkatan delapan kali lipat jumlah bantuan per kepala selama 1960 hingga 2007, tingkat GDP per kapita di Kongo di periode yang sama malah turun 2/3.

“Trade not Aid” (berdagang, bukan bantuan) telah menjadi dogma baru. Dipopulerkan oleh ekonom Peter Bauer pada dekade 1980-an, dogma itu menjadi resep bagi Washington Consensus.

Afrika juga telah menjadi kata yang nge-tren diucapkan, terutama bila menyangkut deregulasi ekonomi dan ambisi pertumbuhan berbasis ekspor seperti keajaiban ekonomi di Asia Timur.

Para konsultan dari Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) meminta para pemerintah Afrika untuk tidak lagi mensubsidi “andalan-andalan nasional” dan meminta mereka mencabut hambatan-hambatan perdagangan. Penyediaan bantuan, yang nilainya makin berkurang, hanya dapat diberikan bila pemerintah melucuti sektor publik.

Pada tahun 1996, hanya 1 persen dari populasi di Afrika Sub-Sahara yang berprofesi sebagai pegawai negeri, bandingkan dengan 3 persen di sesama negara-negara dari kawasan lain dan 7 persen di kelompok negara anggota industri maju. Kendati peran pemerintah berkurang, Afrika belum juga berhasil melompat ke zona kemakmuran.

Para ekonom terus berdalih bahwa masalah di Afrika adalah kurangnya pemerintahan yang efektif. Banyak negara berstatus “gagal” dimana pemerintah tidak bisa lagi menciptakan kondisi keamanan dan kesehatan yang minimum.

Kendati hanya menyumbang 15% dari jumlah populasi dunia, Afrika Sub-Sahara menjadi kuburan bagi 88 persen kematian yang terkait dengan konflik di penjuru dunia. 65 persen dari total korban AIDS berada di kawasan ini. Namun, para ekonom yang selalu mendasari pendapat mereka dengan hitungan statistik kini malah melontarkan rumus baru: kemakmuran tergantung kepada pemerintahan yang baik.

Lalu, seperti apa sih pemerintahan yang baik itu? Memulihkan atau menegakkan konsep itu tampak membicarakan kembali kolonialisme.

Kendati dilanda berbagai kegagalan dan kecaman, kolonialisme memberi prasyarat yang esensial bagi pembangunan ekonomi, yaitu perdamaian dan keamanan. Wacana pembangunan saat ini rata-rata membicarakan bagaimana prasyarat bagi pengurangan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi dapat tercipta tanpa kolonialisme.

Ekonom dari Universitas Oxford, Paul Collier, menilai bahwa banyak negara Afrika telah jatuh ke dalam suatu atau beberapa jerat pembangunan yang sangat sulit untuk keluar. Selain itu, begitu suatu negara masuk dalam suatu jerat, maka mudah sekali negara itu terjerumus ke jerat berikut.

Menjadi miskin membuat orang rentan terlibat konflik dan terlibat suatu konflik bisa menyebabkan jatuh miskin. Jadi apa harapan bagi suatu negara miskin yang hancur akibat perang saudara?

Mengutip seorang diplomat Inggris di Sierra Leone, Collier menyatakan bahwa intervensi militer, bila dimungkinkan, bisa menciptakan perdamaian. Dia pun mendukung keterlibatan internasional untuk menegakkan perdamaian pasca konflik. Namun bantuan internasional harus dibatasi dengan mendukung terciptanya pondasi pemerintahan yang baik secara sukarela.

Situasi akan lebih baik bila dibentuk kerangka kerja bagaimana pemerintah harus membuat anggaran belanja publik secara transparan atau bagaimana perusahaan-perusahaan asing yang selama ini mengambil kekayaan alam harus melaporkan laba mereka. Kondisi demikian akan menjadi patokan yang lebih mudah bagi para aktivis politik lokal sekaligus memberikan sumber legitimasi bagi pemerintah.

Konsep yang diajukan Kimberly Process bisa menjadi proyek pelopor. Perusahaan-perusahaan permata secara sukarela tidak bersedia membeli bahan baku dari wilayah-wilayah yang terlibat konflik. Sikap ini dilakukan untuk mencegah pendanaan bagi para pemimpin milisi yang berperang.

Taktik ini juga baik bagi bisnis. Para konsumen Barat pun akan terdidik untuk tidak membeli perhiasan yang berlumuran darah (berasal dari wilayah konflik).

Perlu 50 tahun bagi Eropa untuk menciptakan integrasi regional. Namun integrasi itu telah menciptakan keuntungan politik dan ekonomi bagi penduduk Eropa. Maka, integrasi regional juga bisa menguntungkan Afrika dengan mengacu pada kerangka kerja yang tepat bagi kondisi di sana.

Ini merupakan proyek yang layak didukung. Proyek-proyek lain mencakup memformalkan ekonomi informal yang besar di negara-negara seperti Ghana. Biasanya, proyek-proyek ini membutuhkan keahlian internasional dengan mandat dari otoritas lokal.

Proposal-proposal itu bisa menjadi terobosan untuk mengatasi masalah pembangunan di Afrika. Namun, seperti halnya saat menapak jalan setiap 14 kilometer antara Lagos dan Abijan (dua kota besar di Afrika Barat), kemajuan akan berjalan lambat.

Dengan membanjirnya pengungsi, kian nekatnya aksi para perompak, dan kelihaian teroris dalam mencari tempat perlindungan, masalah Afrika adalah masalah bersama. Seluruh dunia tidak bisa terus-menerus menanggung kemiskinan Afrika.

Kebocoran kilang minyak di Teluk Meksiko, Florida, Amerika Serikat (AS) membuat sejumlah ilmuwan cemas. Mereka khawatir tumpahan minyak itu akan mengancam keberadaan makhluk-makhluk laut.

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, ahli hewan dan tumbuhan Jack Rudloe meluncurkan proyek penyelamatan biota laut bertajuk ‘Operasi Bahtera Nabi Nuh’.

Ia memanfaatkan fasilitas laboratorium seluas 1,6 hektar miliknya untuk dijadikan cagar alam bagi lebih dari 350 spesimen berbeda, mulai dari udang, bintang laut, hingga hiu.

“Kita harus membawa sebanyak mungkin hewan ke sana (laboratorium) dan bila kondisi memungkinkan, kita bisa kembalikan beberapa dari mereka ke laut,” kata Rudloe yang ketertarikannya terhadap Teluk Meksiko dan penduduknya sudah muncul sejak 40 tahun lalu.

Meski kilang minyak yang bocor telah ditutup sejak pertengahan Juli lalu dan hanya sedikit tumpahan minyak terlihat di Teluk Meksiko, Rudloe masih berkomitmen melakukan proyek ini. “Saya tidak percaya tumpahan minyak akan lenyap seluruhnya,” kata Rudloe. “Tumpahan minyak itu masih di situ dan bisa saja satu atau dua tetes terkumpul dan sampai ke tempat ini saat badai.”

Laboratorium Dickerson Bay milik Rudloe berjarak sekitar 32 kilometer dari area paling timur di mana minyak dilaporkan telah mencemari kawasan Panhandl di Florida. Namun, dia cemas kalau-kalau minyak bisa mencemari 50 tank di laboratoriumnya karena air asin di dalamnya disalurkan melalui pipa sepanjang 800 kaki dari Teluk Meksiko.

Proyek ini diperkirakan akan menelan biaya US$1,2 juta. Dana sebesar itu tidak bisa dipenuhi Rudloe seorang diri. Apalagi istrinya, pakar biologi laut Anne Rudloe sedang sakit parah.

Laboratorium Rudloe sendiri merupakan laboratorium nirlaba berlisensi yang mampu menarik sekitar 18 ribu pengunjung per tahun. Sumber dana fasilitas tersebut berasal dari biaya masuk, keanggotaan, dan donasi.