Wartawan Harian Bintang Papua, Lala, yang diteror orang tak dikenal, batal dievakuasi dari Merauke ke Jayapura. Pembatalan terjadi karena kursi (seat) penerbangan penuh. Aparat kepolisian pun memperketat pengamanan terhadap Lala.

Pemimpin Redaksi Harian Bintang Papua, Amri menuturkan, penerbangan dari Merauke menuju Jayapura hanya dengan Merpati. Karena kursi sudah penuh, akibatnya Lala belum bisa diterbangkan. “Untuk sementara, wartawan kami, Lala, belum bisa dievakuasi. Tapi polisi memberikan jaminan dengan memperketat pengamanan terhadap Lala,” kata dia di Jayapura, Minggu 1 Agustus 2010.

Mengutip pernyataan Kapolres Merauke, Amri mengatakan, aksi teror itu diduga dilakukan oleh kelompok tertentu, yang berupaya menciptakan Merauke seolah-olah tidak aman. Tujuannya, menunda pelaksanaan Pilkada.

“Saya kira ini kerjaan orang iseng, membuat kesan Merauke tidak aman, dan menjadi alasan pembenaran, Pilkada ditunda,” ujar Amri menirukan pernyataan Kapolres Merauke.

Wartawan Lala diteror oleh orang tak dikenal selama sepekan terakhir. Puncaknya, Sabtu 31 Juli 2010, dia dikirimi surat yang amplopnya bercap darah dan kertas isinya berlumuran darah.

Teror bukan hanya diterima Lala, tapi juga para jurnalis lainnya di Merauke. Bahkan salah seorang jurnalis dari TV Merauke sempat hilang sebelum kemudian ditemukan tewas di Sungai Gudang Arang, Merauke.

Menurut keterangan pihak rumah sakit Merauke, ditubuh korban ada tanda-tanda memar.

Advertisements