Archive for August, 2010


Cardiff, Tidak sedikit orang yang suka belajar sambil mendengarkan musik, nonton televisi atau mendengarkan radio. Tapi sebenarnya belajar sambil mendengarkan musik tidaklah baik untuk otak. Mengapa?

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan pelajar yang suka mendengarkan musik ketika belajar membawa dampak buruk bagi otak.

Mempelajari materi ujian sambil mendengarkan musik bukanlah hal yang tepat, karena latar belakang musik dapat mempengaruhi kemampuan otak untuk melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan memori, yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi konsentrasi.

Penelitian yang telah dipublikasikan pada jurnal Applied Cognitive Psychology ini, dilakukan dengan meminta partisipan mengingat delapan data dalam urutan. Penelitian ini dilakukan di lima kondisi berbeda, yaitu lingkungan yang tenang, diperdengarkan musik yang disukai, musik tak disukai, data tidak stabil (urutan acak) dan data stabil.

Hasilnya, kemampuan mengingat partisipan buruk saat kondisi mendengarkan musik, baik musik yang disukai maupun yang tak disukai, juga saat dilakukan mengacakan data. Sedangkan ingatan paling bagus terjadi ketika berada pada lingkungan yang tenang dengan data yang tetap atau stabil.

“Rendahnya daya ingat partisipan pada saat mendengarkan musik dan mengalami data acak terjadi karena adanya variasi di lingkungan akustik. Hal ini merusak kemampuan untuk mengingat urutan data dan pengulangan,” tutur Nick Perham, peneliti dan dosen di School of Psychology, University of Wales Institute di Cardiff, seperti dilansir dari Health24, Jumat (6/8/2010).

Perham menjelaskan bahwa untuk mengingat data juga diperlukan kemampuan untuk mempertahankan kontrol informasi dalam jangka pendek, yaitu melalui pengulangan memori.

Tetapi hal tersebut tidak akan terjadi ketika lingkungan belajar atau tempat untuk mengingat mengalami variasi akustik atau perubahan bunyi, seperti dengan latar belakang musik.

“Ketika Anda belajar dengan tujuan untuk mengingat, maka carilah lingkungan yang tenang,” rekomendasi Perham.

Namun, studi lain menunjukkan bahwa mendengarkan suara-suara tertentu seperti bahan kuliah saat tidur justru dapat meningkatkan daya ingat. Bahkan, untuk memanfaatkan hasil temuan ini, sekarang telah diproduksi bantal yang dilengkapi dengan speaker sehingga orang bisa tidur sambil mendengarkan musik atau bahan kuliah.

Advertisements

Sindrom kekurangan kasih sayang ibu menyebabkan kegagalan berkembang pada anak. Kegalan berkembang merujuk pada kegagalan bayi mendapatkan berat badan cukup, kegagalan pertumbuhan tubuh, dan kegagalan mencapai tahap perkembangan. Kebanyakan kasus disebabkan oleh pola pengasuhan, disfungsional interaksi, kemiskinan, penganiyaan anak, dan ketidaktahuan orangtua mengenai penitipan anak yang tepat.

Gejala
Gejala yang nampak pada bayi seperti:
Tidak ada pertumbuhan linear (grafik pertumbuhan menurun)
Kurangnya kebersihan yang sesuai
Masalah interaksi antara ibu dan anak
Berat kurang dari persentil ke-5, atau angka yang tidak memadai berat badan

Perawatan
Pengobatan gagal tumbuh pada bayi yang disebabkan karena kurang pengasuhan dari merupakan tanggung jawab utama yang memerlukan masukan dari sebuah tim multidisiplin termasuk dokter, ahli gizi, pekerja sosial, perilaku spesialis, dan perawat.

Banyak program yang tersedia untuk para orang tua muda, orangtua tunggal, dan orang tua yang memiliki masalah lain. Arahan harus dilakukan sedini mungkin untuk program-program yang tepat. Membantu anggota keluarga mengakui bahwa ada masalah dan menyediakan peningkatan dukungan bagi ibu dan bayi merupakan satu cara untuk mengatasi masalah tersebut.

Nama Abraham Lincoln telah tercatat dalam sejarah sebagai presiden Amerika Serikat ke-16. Lincoln adalah seorang pemimpin yang kuat, yang mampu memimpin bangsanya keluar dari perang saudara Amerika, mempertahankan persatuan bangsa dan menghapuskan perbudakan. Tapi tahukah Anda bahwa Lincoln menderita depresi yang cukup parah?

Entah penyakit, gangguan ataupun kondisi pikiran, yang pasti depresi telah mempengaruhi lebih dari seratus juta orang per tahun, termasuk sosok pemimpin tangguh Abraham Lincoln.

Orang nomor satu Amerika Serikat yang menjabat sejak 4 Maret 1861 ini adalah seorang yang melankolis. Lincoln juga ternyata menderita depresi dari tahun ke tahun.

Dilansir dari PsychologyToday, Senin (26/7/2010), kondisi Lincoln merupakan kasus psikologis yang tidak biasa. Meski seorang yang melankonis kronis dan menderita depresi, tapi Lincoln termasuk orang terkuat dalam sejarah.

Selama tahun 1800-an, Lincoln diketahui menderita depresi, kecemasan dan insomnia. Depresi yang dialaminya dimulai dengan kematian orang-orang yang dicintainya. Sejak masa kanak-kanak, Lincoln juga diketahui mengalami berbagai macam trauma.

Lincoln berasal dari keluarga yang miskin dan tidak memiliki latar belakang pendidikan. Dilansir dari mcmanweb.com, satu-satunya saudara laki-lakinya meninggal saat masih bayi. Ibu, bibi dan pamannya meninggal karena epidemi pada saat ia berusia 9 tahun. Sepuluh tahun kemudian, kakak perempuannya meninggal saat persalinan.

Tidak hanya sampai disitu, Lincoln sempat bertunangan dengan Anne Rutledge, tapi Anne meninggal karena tiroid (Thyroid Fever), yang membuatnya sangat hancur. Lincoln kemudian bertunangan dan menikah dengan Mary Todd, meski ia diam-diam mencintai Matilda Edwards. Ketika hubungannya dengan Matilda berakhir, Lincoln tampak semakin ‘gila’.

Akhirnya, Lincoln bertemu kembali dengan Mary Todd dan menikah lagi 3 tahun kemudian. Dari pernikahannya, Lincoln dikarunia 4 orang anak. Ia sangat mencintai anak-anaknya, tapi hanya 2 orang yang bertahan hidup. Yang paling membuat terpukul adalah kematian putranya Willie di usia yang masih sangat muda, yaitu 11 tahun.

Tak hanya karena masalah keluarga, Lincoln juga sering menghadapi masalah-masalah besar dalam kehidupan karirnya, baik di bidang hukum, ekonomi maupun politik.

Sepanjang hidupnya, Lincoln berusaha untuk melawan sifat melankolis dan depresi pada dirinya. Tapi ia tak pernah menjadi orang yang ceria, meski ia senang membaca, bercerita, ahli di bidang hukum, intrik politik dan juga suka bermain dengan anak-anak.

Anehnya, disisi pandang filosofis-psikologis yang sama dengan depresi, Lincoln juga menjadi seorang yang sangat kuat. Keputusasaan dan kegagalan telah menguatkan karakternya. Bahkan Lincoln dinilai sebagai presiden AS yang paling hebat sepanjang sejarah Amerika.

Lincoln memiliki perasaan yang kuat dan peduli pada nasib seluruh umat manusia. Lincoln memiliki sifat baik dan tragedi, membuat ilmu psikologi tidak dapat dengan mudah menyimpulkan kondisi yang dialaminya.

Sulit bagi ilmu psikologi moderen untuk memahami bagaimana orang yang depresi bisa memiliki rasa percaya diri dan energi untuk memimpin negara yang paling kuat di dunia. Ia harus melewati kehancuran dirinya sendiri tapi tak pernah kehilangan rasa kemanusiaannya.

Otoritas di kota London meluncurkan 6.000 sepeda untuk disewakan kepada masyarakat. Langkah ini dilakukan demi mengurai macet sekaligus mengampanyekan sepeda sebagai moda transportasi umum paling ramah lingkungan.

Seperti dikutip dari laman Guardian, sepeda-sepeda itu akan dipusatkan di 400 stasiun penyimpanan yang tersebar di seluruh penjuru kota.

Masyarakat atau turis bisa menyewanya setiap saat. Mereka bisa menggunakan sepeda itu gratis di 30 menit awal untuk keliling kota. Namun, selanjutnya akan dikenakan beban sewa sebesar US$1,53 atau sekitar Rp15.000 selama 24 jam atau US$68 atau sekitar Rp650 ribu selama setahun.

“Kami harap sepeda-sepeda ini bisa menjadi ikon London. Saya rasa London boleh bangga dengan konsep ini karena telah memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menggunakan alat transportasi paling ramah lingkungan,” kata Kulveer Ranger, staf ahli walikota bidang transportasi.

Di Jakarta, mimpi menjadikan sepeda sebagai moda transportasi umum masih jauh dari angan. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mensyaratkan jumlah pengayuh kereta angin di Jakarta mencapai satu juta orang untuk membangun jalur khusus sepeda yang nyaman.

Syarat itu sekaligus membenamkan proyek percontohan Urban Park Connector atau pembangunan jalur sepeda yang menghubungkan Blok M-Monas dua tahun silam. Proyek ini tadinya ingin menciptakan jalur khusus sepeda selebar 1 meter yang menghubungkan fasilitas-fasilitas kota seperti taman, air mancur, dan jalur hijau.

Jalur yang sempat akan diujicobakan adalah rute Blok M (Taman Christina Martatiahahu) – Walikota Lama (Jalan Trunojoyo) – Jalan Pattimura – Air Mancur Senayan – Jalan Jenderal Sudirman – Semanggi – Jalan MH Thamrin – Monas.

Selain menjaga keamanan negara, prajurit di Korea Selatan (Korsel) kini juga mendapat perintah baru: dilarang omong jorok atau berkata-kata vulgar. Untuk itu mereka diperintahkan menjalani kursus untuk berbicara dengan bahasa yang baik dan benar.

Perintah itu dikeluarkan oleh Menteri Pertahanan Korsel, Kim Tae-young. Pekan ini dia menginstruksikan para staf untuk mengadakan kursus pelatihan berbahasa bagi para prajurit.

Kim merasa prihatin bahwa para prajurit, terutama anak-anak muda yang tengah menjalani wajib militer, sering menggunakan kata-kata kotor atau tak enak didengar saat bercakap-cakap dengan sesama mereka.

“Mereka sudah bukan lagi remaja,” kata seorang pejabat Kementrian Pertahanan, yang dikutip harian The Korea Herald dan juga dipublikasikan oleh harian The Independent, Sabtu 7 Agustus 2010.

“Begitu mereka dibebastugaskan di awal usia 20-an, mereka tidak bisa terus-terusan seenaknya. Itulah mengapa kami ingin melatih mereka berbahasa yang baik,” lanjut pejabat yang tidak diungkapkan namanya itu.

Namun, tidak diungkapkan lebih lanjut berapa lama kursus itu bakal berlangsung dan metode seperti apa yang akan digunakan bagi para prajurit muda tersebut.

Di Korsel, semua laki-laki harus menjalani wajib militer selama 24 bulan. Program ini begitu penting bagi pemerintah Korsel mengingat mereka masih dalam status perang dengan negara tetangga, Korea Utara. Kedua Korea sempat berperang selama 1950 hingga 1953, namun hanya dihentikan oleh gencatan senjata yang disponsori PBB, bukan melalui perjanjian damai.

Speaking Of My Heart..

Mungkin dari sekian banyaknya contoh yang telah kita tahu dan pahami,itu semua merupakan hal yang perlu kita jadikan acuan untuk kedepannya.Diri ini pun hanya dapat merenungi dan membayangkannya tanpa adanya tindakan?lelah pikiran ini untuk dapat memulainya kembali seperti sedia kala…

kawan mungkin saja kau tak dapat merasakan apa yang aku rasa dan mumgkin saja kau tak tahu bahwa selama ini akuĀ  membutuhkan itu.diam dan keheningan hanya dapat ku rasa di saat sendiri..

jujur,aku ingin melakukan semua itu untuk Ibu ku tercinta yang telah membuat aku menjadi seperti sekarang ini.aku pun tak lupa terhadap kawan-kawan yang telah membantu ku selama ini….

aku harap siapa pun yang telah melihat tulisan ini,dapat mengerti apa yang ku rasakan saat ini,…

Rumah bagi 1/6 populasi dunia, namun hanya menyumbang 1/40 dari produk domestik bruto (GDP) tingkat global. Afrika jelas merupakan korban yang paling mencolok dari resesi global.

Selama 50 tahun terakhir ekonomi di Afrika hanya tumbuh 5 persen. Namun, tingkat pertumbuhan tahun ini diperkirakan malah berkurang setengahnya. Sejumlah negara seperti Angola mengalami gejolak. Di tempat-tempat lain, krisis ini telah menggerus keuntungan yang dicapai dari reformasi ekonomi selama bertahun-tahun. Banyak orang di Afrika kini kembali kepada jurang kemiskinan.

Para ekonom pembangunan kini tampak putus asa; Afrika seakan sudah sia-sia bekerja keras untuk menciptakan keajaiban. Jelang dekolonisasi pada 1960, pertumbuhan GDP per kapita di Afrika Sub-Sahara hampir tiga kali lipat lebih besar dari Asia Tenggara. Selain itu banyak orang Afrika diperkirakan bisa hidup lebih lama dua tahun dari tingkat rata-rata.

Namun, 50 tahun sejak dekolonisasi, tingkat GDP riil per kapita di Afrika hanya tumbuh 38 persen dan mereka hidup sembilan tahun lebih lama. Sebaliknya, di Asia Tenggara, tingkat GDP per kapita meningkat 1000 persen dan orang-orang di sana hidup 32 tahun lebih lama.

Awalnya, solusi bagi Afrika sebenarnya sangat jelas. Afrika butuh modal, namun kurang tabungan. Lalu, uang harus disediakan dari pihak luar, yaitu institusi keuangan seperti Bank Dunia. Menerapkan suku bunga komersil dari orang-orang kelaparan sama halnya dengan riba, sehingga menawarkan pinjaman sama rutinnya dengan mendatangkan hibah.

Melempar uang ke orang miskin seolah menjadi obat mujarab. Program itu gampang dijual dan menyentuh emosi kemanusiaan. Selain itu juga meringankan perasaan bersalah sebagai penjajah di masa lalu, sama dengan tingkah orang tua yang memberi anak-anak hadiah mahal agar penelantaran mereka bisa dimaafkan.

Namun perilaku demikian tidak berjalan baik. Sebagian besar bantuan telah dicuri atau terkucur sia-sia. Di Kongo, misalnya. Kendati mengalami peningkatan delapan kali lipat jumlah bantuan per kepala selama 1960 hingga 2007, tingkat GDP per kapita di Kongo di periode yang sama malah turun 2/3.

“Trade not Aid” (berdagang, bukan bantuan) telah menjadi dogma baru. Dipopulerkan oleh ekonom Peter Bauer pada dekade 1980-an, dogma itu menjadi resep bagi Washington Consensus.

Afrika juga telah menjadi kata yang nge-tren diucapkan, terutama bila menyangkut deregulasi ekonomi dan ambisi pertumbuhan berbasis ekspor seperti keajaiban ekonomi di Asia Timur.

Para konsultan dari Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) meminta para pemerintah Afrika untuk tidak lagi mensubsidi “andalan-andalan nasional” dan meminta mereka mencabut hambatan-hambatan perdagangan. Penyediaan bantuan, yang nilainya makin berkurang, hanya dapat diberikan bila pemerintah melucuti sektor publik.

Pada tahun 1996, hanya 1 persen dari populasi di Afrika Sub-Sahara yang berprofesi sebagai pegawai negeri, bandingkan dengan 3 persen di sesama negara-negara dari kawasan lain dan 7 persen di kelompok negara anggota industri maju. Kendati peran pemerintah berkurang, Afrika belum juga berhasil melompat ke zona kemakmuran.

Para ekonom terus berdalih bahwa masalah di Afrika adalah kurangnya pemerintahan yang efektif. Banyak negara berstatus “gagal” dimana pemerintah tidak bisa lagi menciptakan kondisi keamanan dan kesehatan yang minimum.

Kendati hanya menyumbang 15% dari jumlah populasi dunia, Afrika Sub-Sahara menjadi kuburan bagi 88 persen kematian yang terkait dengan konflik di penjuru dunia. 65 persen dari total korban AIDS berada di kawasan ini. Namun, para ekonom yang selalu mendasari pendapat mereka dengan hitungan statistik kini malah melontarkan rumus baru: kemakmuran tergantung kepada pemerintahan yang baik.

Lalu, seperti apa sih pemerintahan yang baik itu? Memulihkan atau menegakkan konsep itu tampak membicarakan kembali kolonialisme.

Kendati dilanda berbagai kegagalan dan kecaman, kolonialisme memberi prasyarat yang esensial bagi pembangunan ekonomi, yaitu perdamaian dan keamanan. Wacana pembangunan saat ini rata-rata membicarakan bagaimana prasyarat bagi pengurangan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi dapat tercipta tanpa kolonialisme.

Ekonom dari Universitas Oxford, Paul Collier, menilai bahwa banyak negara Afrika telah jatuh ke dalam suatu atau beberapa jerat pembangunan yang sangat sulit untuk keluar. Selain itu, begitu suatu negara masuk dalam suatu jerat, maka mudah sekali negara itu terjerumus ke jerat berikut.

Menjadi miskin membuat orang rentan terlibat konflik dan terlibat suatu konflik bisa menyebabkan jatuh miskin. Jadi apa harapan bagi suatu negara miskin yang hancur akibat perang saudara?

Mengutip seorang diplomat Inggris di Sierra Leone, Collier menyatakan bahwa intervensi militer, bila dimungkinkan, bisa menciptakan perdamaian. Dia pun mendukung keterlibatan internasional untuk menegakkan perdamaian pasca konflik. Namun bantuan internasional harus dibatasi dengan mendukung terciptanya pondasi pemerintahan yang baik secara sukarela.

Situasi akan lebih baik bila dibentuk kerangka kerja bagaimana pemerintah harus membuat anggaran belanja publik secara transparan atau bagaimana perusahaan-perusahaan asing yang selama ini mengambil kekayaan alam harus melaporkan laba mereka. Kondisi demikian akan menjadi patokan yang lebih mudah bagi para aktivis politik lokal sekaligus memberikan sumber legitimasi bagi pemerintah.

Konsep yang diajukan Kimberly Process bisa menjadi proyek pelopor. Perusahaan-perusahaan permata secara sukarela tidak bersedia membeli bahan baku dari wilayah-wilayah yang terlibat konflik. Sikap ini dilakukan untuk mencegah pendanaan bagi para pemimpin milisi yang berperang.

Taktik ini juga baik bagi bisnis. Para konsumen Barat pun akan terdidik untuk tidak membeli perhiasan yang berlumuran darah (berasal dari wilayah konflik).

Perlu 50 tahun bagi Eropa untuk menciptakan integrasi regional. Namun integrasi itu telah menciptakan keuntungan politik dan ekonomi bagi penduduk Eropa. Maka, integrasi regional juga bisa menguntungkan Afrika dengan mengacu pada kerangka kerja yang tepat bagi kondisi di sana.

Ini merupakan proyek yang layak didukung. Proyek-proyek lain mencakup memformalkan ekonomi informal yang besar di negara-negara seperti Ghana. Biasanya, proyek-proyek ini membutuhkan keahlian internasional dengan mandat dari otoritas lokal.

Proposal-proposal itu bisa menjadi terobosan untuk mengatasi masalah pembangunan di Afrika. Namun, seperti halnya saat menapak jalan setiap 14 kilometer antara Lagos dan Abijan (dua kota besar di Afrika Barat), kemajuan akan berjalan lambat.

Dengan membanjirnya pengungsi, kian nekatnya aksi para perompak, dan kelihaian teroris dalam mencari tempat perlindungan, masalah Afrika adalah masalah bersama. Seluruh dunia tidak bisa terus-menerus menanggung kemiskinan Afrika.

Kebocoran kilang minyak di Teluk Meksiko, Florida, Amerika Serikat (AS) membuat sejumlah ilmuwan cemas. Mereka khawatir tumpahan minyak itu akan mengancam keberadaan makhluk-makhluk laut.

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, ahli hewan dan tumbuhan Jack Rudloe meluncurkan proyek penyelamatan biota laut bertajuk ‘Operasi Bahtera Nabi Nuh’.

Ia memanfaatkan fasilitas laboratorium seluas 1,6 hektar miliknya untuk dijadikan cagar alam bagi lebih dari 350 spesimen berbeda, mulai dari udang, bintang laut, hingga hiu.

“Kita harus membawa sebanyak mungkin hewan ke sana (laboratorium) dan bila kondisi memungkinkan, kita bisa kembalikan beberapa dari mereka ke laut,” kata Rudloe yang ketertarikannya terhadap Teluk Meksiko dan penduduknya sudah muncul sejak 40 tahun lalu.

Meski kilang minyak yang bocor telah ditutup sejak pertengahan Juli lalu dan hanya sedikit tumpahan minyak terlihat di Teluk Meksiko, Rudloe masih berkomitmen melakukan proyek ini. “Saya tidak percaya tumpahan minyak akan lenyap seluruhnya,” kata Rudloe. “Tumpahan minyak itu masih di situ dan bisa saja satu atau dua tetes terkumpul dan sampai ke tempat ini saat badai.”

Laboratorium Dickerson Bay milik Rudloe berjarak sekitar 32 kilometer dari area paling timur di mana minyak dilaporkan telah mencemari kawasan Panhandl di Florida. Namun, dia cemas kalau-kalau minyak bisa mencemari 50 tank di laboratoriumnya karena air asin di dalamnya disalurkan melalui pipa sepanjang 800 kaki dari Teluk Meksiko.

Proyek ini diperkirakan akan menelan biaya US$1,2 juta. Dana sebesar itu tidak bisa dipenuhi Rudloe seorang diri. Apalagi istrinya, pakar biologi laut Anne Rudloe sedang sakit parah.

Laboratorium Rudloe sendiri merupakan laboratorium nirlaba berlisensi yang mampu menarik sekitar 18 ribu pengunjung per tahun. Sumber dana fasilitas tersebut berasal dari biaya masuk, keanggotaan, dan donasi.

Banjir terburuk dalam sejarah Pakistan menyengsarakan lebih dari tiga juta orang. Data badan PBB untuk kesehatan dan kesejahteraan anak-anak (UNICEF) menunjukkan, korban tewas bertambah menjadi lebih dari 1.500 orang.

Martin Mogwanja, perwakilan UNICEF di Pakistan, Selasa, 3 Agustus 2010, mengatakan bahwa jumlah orang yang terkena dampak banjir terus bertambah karena banjir menyebar hingga ke selatan Pakistan.

“Kapasitas air ini bergerak ke bawah hingga ke provinsi Punjab dan Baluchistan, dan juga sampai provinsi Sindh, di mana tanggul sudah hancur, dan air bergerak ke daerah yang lebih rendah,” kata Mogwanja, seperti dikutip dari laman Al Jazeera.

Sementara badan PBB untuk kesehatan (WHO) menyatakan segera mengirim obat-obatan ke daerah-daerah yang berpotensi menimbulkan diare. Dengan infrastruktur yang buruk dan sumber air minum terkontaminasi, muncul ketakutan akan terjadi penyebaran penyakit dalam waktu dekat.

Hari ini, badan kemanusiaan dan pemerintah Pakistan akan bertemu untuk menentukan apakah permintaan bantuan internasional diperlukan. Otoritas Manajemen Bencana Nasional Pakistan mengatakan, lebih dari 29.500 rumah rusak dan jalur perdagangan penting ke China tertutup banjir.

“Infrastruktur yang kami bangun dalam 50 tahun terakhir telah hancur,” kata juru bicara otoritas manajemen bencana di Khyber-Pakhtunkhwa. Musim hujan yang diprediksi masih akan berlanjut membuat otoritas memperkirakan korban jiwa akan bertambah.

Prajurit Libanon dan IsraelĀ  terlibat baku tembak di sepanjang perbatasan kedua negara, Selasa, 3 Agustus 2010. Seorang prajurit Libanon dan seorang warga sipil mengalami luka.

“Israel menembakkan empat roket yang jatuh di dekat posisi militer di desa Odaisi, lalu kami membalas serangan,” kata seorang staf militer Libanon seperti dikutip dari laman Al Jazeera.

Baku tembak terjadi karena prajurit-prajurit Israel dikabarkan berupaya menumbangkan pepohonan di perbatasan yang masuk dalam wilayah Libanon. “Militer Israel mendekati perbatasan untuk mencoba menumbangkan sejumlah pohon di dekat desa Odaisi dan Kuferkilla, lalu terjadilah baku tembak itu,” kata koresponden Al Jazeera di Libanon.

Sedangkan menurut Israel, sejumlah prajurit mereka diserang oleh prajurit Libanon saat sedang bekerja di garis depan. Pasukan Israel lalu membalas tembakan itu.

Sedangkan koresponden Al Jazeera di Yerusalem mengatakan bahwa insiden baku tembak ini terjadi karena kesalahpahaman. “Prajurit Israel dianggap memasuki teritori Libanon, yang kemudian berujung baku tembak,” katanya. Situasi di perbatasan Libanon-Israel dikabarkan sudah kembali tenang.